Senin, 31 Maret 2008

Kegiatan Kirab Pusaka leluhur Sumedang

HELARAN PUSAKA LELUHUR SUMEDANG

SUMEDANG, Acara Maulid Nabi Muhammad S.A.W. 1428 H diperingati setiap tahunnya pada tanggal 1 Maulud di Keraton Sumedang Larang komplek Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang, diawali Ritual ngumbah Pusaka – pusaka peninggalan leluhur Sumedang seperti Pedang Ki Mastak peninggalan Prabu Tajimalela raja Sumedang Larang pertama tahun 721 - 778 M, Keris Ki Dukun peninggalan Prabu gajah Agung (893 – 998 M), Keris Panunggul Naga peninggalan Prabu Geusan Ulun (1578 – 1601 M), Keris Nagasasra peninggalan Pangeran Panembahan Bupati Sumedang (1656 – 1706 M), Keris Nagasasra II peninggalan Pangeran Kusumahdinata / Kornel Bupati Sumedang (1791 – 1828), Badik Curul Aul peninggalan Senapati Jayaperkosa dan Mahkota Binokasih peninggalan Prabu Geusan Ulun (1578 – 1601 M).

Ritual Ngumbah pusaka yang diselenggarakan oleh Yayasan Pangeran Sumedang memberi kesempatan kepada masyarakat luas untuk menyaksikan pencucian pusaka – pusaka peninggalan leluhur Sumedang secara langsung.

Ritual ngumbah pusaka yang baru ini dilaksanakan pada tanggal 1 Mulud / 9 Maret 2008 diawali dengan penurunan Pusaka – pusaka leluhur Sumedang dari tempatnya kemudian pusaka tersebut di cuci satu persatu diawali dengan Pedang Ki Mastak yang dicuci oleh Ketua Yayasan Pangeran Sumedang R. I. Lukman Soemadisoeria . Ritual ngumbah pusaka pada hari pertama adalah 6 buah pusaka peninggalan dari para raja dan Bupati Sumedang, selain pusaka turut dicuci juga Kareta Naga Paksi. dan Gamelan seperti Gamelan Parakan Salak dan Sari Oneng, setelah dicuci gamelan ini tidak boleh ditabuh hingga tanggal 11 Rabiul awal.

Puncak acara Maulid Muhammad S.A.W. adalah Kirab Helaran Pusaka Leluhur Sumedang yang dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2008. Acara kirab dikuti oleh wargi keturunan Leluhur Sumedang, yang menjadi perhatian masyarakat adalah ikut sertanya 9 Pusaka Leluhur Sumedang dan Kareta Naga Paksi yang ditarik oleh manusia selain itu rombongan berkuda keturunan raja – raja Sumedang Larang . Acara kirab dimulai dari Gedung Pusaka Museum Prabu Geusan Ulun kemudian menuju ke Gedung Negara (Kompleks Pemkab Sumedang) lalu memasuki Jalan Prabu Geusan Ulun hingga pertigaan Jalan Prabu Geusan Ulun dan Jalan Kutamaya.

Ketua Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) Rd.I. Lukman Soemadisoeria menerangkan “Kirab pusaka ini merupakan kegiatan tahunan yang di selenggarakan oleh Kraton Sumedang Larang yakni Yayasan Pangeran Sumedang dan Rukun Wargi Sumedang, pada Helaran tahun lalu memberikan informasi kepada warga Sumedang bahwa peninggalan Kerajaan Sumedang Larang memang kaya dan menjadi bagian dari budaya Sumedang yang harus dilestarikan” ujarnya.

Kerajaan Sumedang Larang merupakan bagian dari kerajaan – kerajaan Sunda, setelah runtuhnya Kerajaan Padjajaran pada tahun 1579 M, Sumedang Larang menjadi penerus Kerajaan Padjajaran dengan di serahkannya Pusaka Padjajaran berupa Mahkota Binokasih oleh empat Senopati Padjajaran kepada Prabu Geusan Ulun raja Sumedang Larang. (Abdul Latief).

Cikal Bakal Kabupaten Sumedang

Sumedang, Pada tanggal 22 April Kabupaten Sumedang telah berusia 340 tahun . Kata Sumedang berasal dari “inSUn MEdal insun maDANGan”, Insun artinya saya Medal artinya lahir ,Madangan artinya memberi penerangan jadi kata Sumedang bisa berarti “Saya lahir untuk memberi penerangan”. Kalimat “Insun Medal Insun Madangan” terucap ketika Prabu Tajimalela raja Sumedang Larang I melihat ketika langit menjadi terang-benderang oleh cahaya yang melengkung mirip selendang (malela) selama tiga hari tiga malam. Kata Sumedang dapat juga diambil juga dari kata Su yang berarti baik atau indah dan Medang adalah nama sejenis pohon, Litsia Chinensis sekarang dikenal sebagai pohon Huru, dulu pohon medang banyak tumbuh subur di dataran tinggi sampai ketinggi 700 m dari permukaan laut seperti halnya Sumedang merupakan dataran tinggi.

Asal mula Sumedang berasal dari Kerajaan Tembong Agung yang didirikan oleh Prabu Guru Aji Putih ( 678 - 721 M ) putra Aria Bima Raksa / Ki Balagantrang Senapati Galuh cucu dari Wretikandayun pendiri Kerajaan Galuh. Kerajaan Tembong Agung berada di Citembong Girang Kecamatan Ganeas Sumedang kemudian pindah ke kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja. Pada masa Prabu Tajimalela ( 721 - 778 M ) putra dari Guru Aji Putih di bekas Kerajaan Tembong Agung didirikan Kerajaan Sumedang Larang. Sumedang Larang berarti tanah luas yang jarang bandingnya” (Su= bagus, Medang = luas dan Larang = jarang bandingannya).

Masa kejayaan Sumedang Larang pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun (1578 – 1601 M) ketika pada masa pemerintahan Pangeran Santri / Pangeran Kusumahdinata I raja Sumedang Larang ke-8 ,pada tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya Sumedang Larang Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante Padjajaran yang dipimpin oleh Sanghiang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nganganan), Sangiang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot membawa pusaka Pajajaran dan alas parabon untuk di serahkan kepada penguasa Sumedang Larang pada waktu itu dan pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya / Pangeran Kusumadinata II dinobatkan sebagai raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda Padjajaran dan Raja Sumedang Larang ke-9. Ketika dinobatkan sebagai raja Prabu Geusan Ulun berusia + 23 tahun menggantikan ayahnya Pangeran Santri yang telah tua dan pada tanggal 11 Suklapaksa bulan Wesaka 1501 Sakakala atau tanggal 8 Mei 1579 M kerajaan Pajajaran “Sirna ing bumi” Ibukota Padjajaran jatuh ke tangan pasukan Kesultanan Surasowan Banten

Yang akhirnya Sumedang mewarisi wilayah bekas wilayah Padjajaran dengan wilayahnya meliputi seluruh Padjajaran sesudah 1527 masa Prabu Prabu Surawisesa dengan batas meliputi; Sungai Cipamali (daerah Brebes sekarang) di sebelah timur, Sungai Cisadane di sebelah barat, Samudra Hindia sebelah Selatan dan Laut Jawa sebelah utara. Daerah yang tidak termasuk wilayah Sumedang Larang yaitu Kesultanan Banten, Jayakarta dan Kesultanan Cirebon. Dilihat dari luas wilayah kekuasaannya, wilayah Sumedang Larang dulu hampir sama dengan wilayah Jawa Barat sekarang tidak termasuk wilayah Banten dan Jakarta kecuali wilayah Cirebon sekarang menjadi bagian Jawa Barat. sehingga Prabu Geusan Ulun mendapat restu dari 44 penguasa daerah Parahiyangan yang terdiri dari 26 Kandaga Lante, Kandaga Lante adalah semacam Kepala yang satu tingkat lebih tinggi dari pada Cutak (Camat) dan 18 Umbul dengan cacah sebanyak + 9000 umpi. Pemberian pusaka Padjajaran pada tanggal 22 April 1578 akhirnya ditetapkan sebagai hari jadinya Kabupaten Sumedang.

Peristiwa penobatan Prabu Geusan Ulun sebagai Cakrawarti atau Nalendra merupakan kebebasan Sumedang untuk mengsejajarkan diri dengan kerajaan Banten dan Cirebon. Arti penting yang terkandung dalam peristiwa itu ialah pernyataan bahwa Sumedang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran di Bumi Parahiyangan. Pusaka Pajajaran dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh Senapati Jaya Perkosa dari Pakuan dengan sendirinya dijadikan bukti dan alat legalisasi keberadaan Sumedang, sama halnya dengan pusaka Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak dan Mataram. (Abdul Latief)

Keterangan Gambar :

- Gb. 1 : Kirab Helaran Pusaka Nampak Duplikat Mahkota Binokasih dikirab.

- Gb. 2 : 9 Pusaka Leluhur Sumedang, Dari kiri ke kanan :

- Keris Nagasasra peninggalan Pangeran Kusumahdinata IX / Kornel.

- Keris Nagasasra peninggalan Pangeran Panembahan.

- Keris Panunggul Naga peninggalan Prabu Geusan Ulun.

- Pedang Ki Mastak peninggalan Prabu Tajimalela.

- Keris Ki Dukun peninggalan Prabu Gajah Agung.

- 2 Badik Curul Aul peninggalan Mbah Jayaperkosa

- Bawah : Mahkota Binokasih dan Siger

-

- Gb. 1 : Kareta Naga Paksi ditarik ku manusia.

- Gb. 2 : Ketua Yayasan Pangeran Sumedang R. I. Lukman Soemadisoeria

- Gb. 3 : Pusaka Padjajaran “ Mahkota Binokasih Sanghiyang Pake” yang asli di Gd. Pusaka

Museum Prabu Geusan Ulun.

- Gb. 4: Peserta kirab .


Gb.5 : Rombongan Berkuda Pangagung Sumedang Larang






2 komentar:

febrisigokil mengatakan...

alus,sejarahna sumedang teh keudah janten pangeling ku mojang majeng ayeuna

kampungan banged mengatakan...

Pangeran dipenegoro...ripuh teu bisa asup ka sumedang...balik ka jawa...

Sejarah Sumedanglarang

I. ASAL KATA “SUMEDANG”

Kata Sumedang berasal dari “inSUn MEdal insun maDANGan”, Insun artinya saya Medal artinya lahir Madangan artinya memberi penerangan jadi kata Sumedang bisa berarti “Saya lahir untuk memberi penerangan”. Kalimat “Insun Medal Insun Madangan” terucap ketika Prabu Tajimalela raja Sumedang Larang I melihat ketika langit menjadi terang-benderang oleh cahaya yang melengkung mirip selendang (malela) selama tiga hari tiga malam. Kata Sumedang dapat juga diambil juga dari kata Su yang berarti baik atau indah dan Medang adalah nama sejenis pohon, Litsia Chinensis sekarang dikenal sebagai pohon Huru, dulu pohon medang banyak tumbuh subur di dataran tinggi sampai ketinggi 700 m dari permukaan laut seperti halnya Sumedang merupakan dataran tinggi.

II. ASAL MULA SUMEDANG

Asal mula Sumedang berasal dari Kerajaan Tembong Agung yang didirikan oleh Prabu Guru Aji Putih ( 678 - 721 M ) putra Aria Bima Raksa / Ki Balagantrang Senapati Galuh cucu dari Wretikandayun pendiri Kerajaan Galuh. Kerajaan Tembong Agung berada di Citembong Girang Kecamatan Ganeas Sumedang kemudian pindah ke kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja. Pada masa Prabu Tajimalela ( 721 - 778 M ) putra dari Guru Aji Putih di bekas Kerajaan Tembong Agung didirikan Kerajaan Sumedang Larang. Sumedang Larang berarti tanah luas yang jarang bandingnya” (Su= bagus, Medang = luas dan Larang = jarang bandingannya).

Masa kejayaan Sumedang Larang pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun (1578 – 1601 M) ketika pada masa pemerintahan Pangeran Santri / Pangeran Kusumahdinata I raja Sumedang Larang ke-8 ayah dari Prabu Geusan Ulun pada tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya Sumedang Larang Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante yang dipimpin oleh Sanghiang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nganganan), Sangiang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot membawa pusaka Pajajaran dan alas parabon untuk di serahkan kepada penguasa Sumedang Larang pada waktu itu dan pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya / Pangeran Kusumadinata II dinobatkan sebagai raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda Padjajaran dan Raja Sumedang Larang ke-9. Ketika dinobatkan sebagai raja Prabu Geusan Ulun berusia + 23 tahun menggantikan ayahnya Pangeran Santri yang telah tua dan pada tanggal 11 Suklapaksa bulan Wesaka 1501 Sakakala atau tanggal 8 Mei 1579 M kerajaan Pajajaran “Sirna ing bumi” Ibukota Padjajaran jatuh ke tangan pasukan Kesultanan Surasowan Banten

Yang akhirnya Sumedang mewarisi wilayah bekas wilayah Padjajaran dengan wilayahnya meliputi seluruh Padjajaran sesudah 1527 masa Prabu Prabu Surawisesa dengan batas meliputi; Sungai Cipamali (daerah Brebes sekarang) di sebelah timur, Sungai Cisadane di sebelah barat, Samudra Hindia sebelah Selatan dan Laut Jawa sebelah utara. Daerah yang tidak termasuk wilayah Sumedang Larang yaitu Kesultanan Banten, Jayakarta dan Kesultanan Cirebon. Dilihat dari luas wilayah kekuasaannya, wilayah Sumedang Larang dulu hampir sama dengan wilayah Jawa Barat sekarang tidak termasuk wilayah Banten dan Jakarta kecuali wilayah Cirebon sekarang menjadi bagian Jawa Barat. sehingga Prabu Geusan Ulun mendapat restu dari 44 penguasa daerah Parahiyangan yang terdiri dari 26 Kandaga Lante, Kandaga Lante adalah semacam Kepala yang satu tingkat lebih tinggi dari pada Cutak (Camat) dan 18 Umbul dengan cacah sebanyak + 9000 umpi. Pemberian pusaka Padjajaran pada tanggal 22 April 1578 akhirnya ditetapkan sebagai hari jadinya Kabupaten Sumedang.

Peristiwa penobatan Prabu Geusan Ulun sebagai Cakrawarti atau Nalendra merupakan kebebasan Sumedang untuk mengsejajarkan diri dengan kerajaan Banten dan Cirebon. Arti penting yang terkandung dalam peristiwa itu ialah pernyataan bahwa Sumedang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran di Bumi Parahiyangan. Pusaka Pajajaran dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh Senapati Jaya Perkosa dari Pakuan dengan sendirinya dijadikan bukti dan alat legalisasi keberadaan Sumedang, sama halnya dengan pusaka Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak dan Mataram.

III. DARI MASA KERAJAAN KE MASA KABUPATEN

Pada tahun 1601 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya Pangeran Aria Soeriadiwangsa, pada masa Aria Soeriadiwangsa kekuasaan Sumedang Larang di daerah sudah menurun dan Mataram melakukan perluasan wilayah ke segala penjuru tanah air termasuk ke Sumedang. Pada waktu itu Sumedang Larang sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan yang akhirnya Pangeran Aria Soeriadiwangsa pergi ke Mataram untuk menyatakan Sumedang menjadi bagian wilayah Mataram pada tahun 1620. Wilayah bekas kerajaan Sumedang Larang diganti nama menjadi Priangan yang berasal dari kata “Prayangan” yang berarti daerah yang berasal dari pemberian yang timbul dari hati yang ikhlas dan Pangeran Aria Soeriadiwangsa diangkat menjadi Bupati Sumedang pertama dan diberi gelar Rangga Gempol I (1601 – 1625 M). Sumedang menjadi bagian dari wilayah Mataram karena Pangeran Aria Soeriadiwangsa I mengganggap ; 1. Sumedang sudah lemah dari segi kemiliteran, 2. menghindari serangan dari Mataram karena waktu itu Mataram memperluas wilayah kekuasaannya dari segi kekuatan Mataram lebih kuat daripada Sumedang dan 3. menghindari pula serangan dari Cirebon dan VOC. Sultan Agung kemudian membagi-bagi wilayah Priangan menjadi beberapa Kabupaten yang masing-masing dikepalai seorang Bupati, untuk koordinasikan para bupati diangkat seorang Bupati Wadana. Pangeran Rangga Gempol I adalah Bupati Sumedang yang merangkap sebagai Bupati Wadana Priangan pertama (1601 – 1625 M).

Yang akhirnya wilayah Sumedang Larang pada masa Prabu Geusan Ulun menjadi wilayah Sumedang sekarang. Berakhirlah sudah kerajaan Sunda terakhir Sumedang Larang di Jawa Barat Sumedang memasuki era baru yaitu Kabupaten pada tahun 1620 sampai sekarang. Sejak menjadi Kabupaten, Bupati yang memimpin Sumedang sampai tahun 1949 merupakan keturunan langsung dari Prabu Geusan Ulun (lihat masa pemerintahan) tetapi pada tahun 1773 – 1791 yang menjadi Bupati Sumedang adalah Bupati penyelang / sementara dari Parakan Muncang. Menggantikan putra Bupati Surianagara II yang belum menginjak dewasa Rd. Djamu atau terkenal sebagai Pangeran Kornel.

IV. LETAK IBUKOTA KERAJAAN DAN KABUPATEN ( 678 – 1706 M )

BEKAS IBUKOTA KERAJAAN

No.

NAMA TEMPAT

TAHUN

MASA PEMERINTAHAN

KETERANGAN

1.

Tembong Agung - Leuwi Hideung Darmaraja

678 – 893

- Prabu Guru Aji Putih

- Prabu Tajimalela.

- Prabu Lembu Agung

- Raja Tembong Agung.

- Raja Sumedang Larang 1

- Raja Sumedang Larang 2

2.

Ciguling – Pasanggrahan Sumedang Selatan

893 – 1530

- Prabu Gajah Agung.

- Prabu Pagulingan.

- Sunan Guling.

- Prabu Tirtakusumah.

- Nyi Mas Patuakan

- Raja Sumedang Larang 3

- Raja Sumedang Larang 4

- Raja Sumedang Larang 5

- Raja Sumedang Larang 6

- Raja Sumedang Larang 7

3.

Kutamaya - Padasuka

1530 – 1578

Ratu Pucuk Umum / Pangeran Santri

- Raja Sumedang Larang 8

4.

Dayeuh Luhur - Ganeas

1578 - 1601

Prabu Geusan Ulun

- Raja Sumedang Larang 9

BEKAS IBUKOTA KABUPATIAN

No.

NAMA TEMPAT

TAHUN

MASA PEMERINTAHAN

1.

Tegal Kalong – Sumedang Utara

1601 – 1625

Rangga Gempol I.

2.

Canukur Sukatali - Situraja

1601 - 1625

Rangga Gede

3.

Parumasan

1625 - 1633

Rangga Gede.

4.

Tenjo Laut Cidudut - Conggeang

1633 - 1656

Rangga Gempol II

5.

Sulambitan – Sumedang Selatan

1656 - 1706

Pangeran Panembahan

6.

Regol Wetan – Sumedang Selatan

1706 - sekarang

Dalem Adipati Tanumadja

MASA PEMERINTAHAN

RAJA DAN BUPATI SUMEDANG

I. MASA KERAJAAN.

1. Prabu Guru Aji Putih (Raja Tembong Agung) 678 - 721

2. Batara Tuntang Buana / Prabu Tajimalela. 721 - 778

3. Jayabrata / Prabu Lembu Agung 778 - 893

4. Atmabrata / Prabu Gajah Agung. 893 - 998

5. Jagabaya / Prabu Pagulingan. 998 - 1114

6. Mertalaya / Sunan Guling. 1114 – 1237

7. Tirtakusuma / Sunan Tuakan. 1237 – 1462

8. Sintawati / Nyi Mas Ratu Patuakan. 1462 – 1530

9. Satyasih / Ratu Inten Dewata Pucuk Umum 1530 – 1578

( kemudian digantikan oleh suaminya Pangeran Kusumadinata I / Pangeran Santri )

10. Pangeran Kusumahdinata II / Prabu Geusan Ulun 1578 – 1601

II. MASA BUPATI PENGARUH MATARAM.

11. Pangeran Suriadiwangsa / Rangga Gempol I 1601 – 1625

12. Pangeran Rangga Gede / Kusumahdinata IV 1625 – 1633

13. Raden Bagus Weruh / Pangeran Rangga Gempol II. 1633 – 1656

14. Pangeran Panembahan / Rangga Gempol III 1656 - 1706

III. MASA PENGARUH KOMPENI VOC.

15. Dalem Adipati Tanumadja. 1706 – 1709

16. Pangeran Karuhun / Rangga Gempol IV 1709 – 1744

17. Dalem Istri Rajaningrat 1744 – 1759

18. Dalem Adipati Kusumadinata VIII / Dalem Anom. 1759 - 1761 19. Dalem Adipati Surianagara II 1761 - 1765 20. Dalem Adipati Surialaga. 1765 – 1773

IV. MASA BUPATI PENYELANG / SEMENTARA

21. Dalem Adipati Tanubaya 1773 – 1775

22. Dalem Adipati Patrakusumah 1775 – 1789

23. Dalem Aria Sacapati. 1789 – 1791

V. MASA PEMERINTAHAN BELANDA.

Merupakan Bupati Keturunan Langsung leluhur Sumedang.

24. Pangeran Kusumadinata IX / Pangeran Kornel. 1791 – 1828

25. Dalem Adipati Kusumayuda / Dalem Ageung. 1828 – 1833

26. Dalem Adipati Kusumadinata X / Dalem Alit. 1833 – 1834

27. Tumenggung Suriadilaga / Dalem Sindangraja 1834 – 1836

28. Pangeran Suria Kusumah Adinata / Pangeran Sugih. 1836 – 1882

29. Pangeran Aria Suriaatmadja / Pangeran Mekkah. 1882 – 1919

30. Dalem Adipati Aria Kusumadilaga / Dalem Bintang. 1919 – 1937

31. Tumenggung Aria Suria Kusumahdinata / Dalem Aria. 1937 – 1946

VI. MASA REPUBLIK INDONESIA

32. Tumenggung Aria Suria Kusumahdinata / Dalem Aria. 1945 – 1946

33. R. Hasan Suria Sacakusumah. 1946 – 1947

34. R. Tumenggung Mohammad Singer. 1947 – 1949

35. R. Hasan Suria Sacakusumah. 1949 – 1950

(Bupati terakhir keturunan langsung leluhur Sumedang)

SEJARAH MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN.

Awal berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun, diawali berdirinya “Yayasan Pangeran Aria Soeria Atmadja (YAPASA)”, yayasan yang mengurus, memelihara dan mengelola barang – barang wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja Bupati Sumedang 1882 – 1919. Untuk melestarikan benda – benda wakaf tersebut YAPASA merencanakan untuk mendirikan Museum. Pada tahun 1973 YAPASA berubah nama menjadi Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) dan didirikan sebuah Museum yang bernama Museum Yayasan Pangeran Sumedang yang pada mulanya dibuka hanya untuk di lingkungan para wargi keturunan dan seketurunan Leluhur Pangeran Sumedang.

Pada tanggal 7 – 13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa Barat yang dihadiri oleh para ahli-ahli sejarah Jawa Barat. Pada kesempatan yang baik itu Sesepuh YPS dan Sesepuh Wargi Sumedang mengusulkan untuk mengganti nama Museum YPS. Dan salah satu hasil dari Seminar Sejarah Jawa Barat tersebut dapat diputuskan dan ditetapkan untuk memberi nama Museum YPS, diambil dari nama seorang tokoh yang karismatik yaitu Raja pertama dan terakhir Kerajaan Sumedanglarang yang bernama “Prabu Geusan Ulun”. Maka pada tanggal 13 Maret 1974 Museum YPS diberi nama menjadi Museum “Prabu Geusan Ulun” –YPS.

Gedung pertama yang dipakai sebagai Museum adalah Gedung Gendeng

Pada tanggal 7 – 13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa Barat yang dihadiri oleh para ahli-ahli sejarah Jawa Barat. Pada kesempatan yang baik itu Sesepuh YPS dan Sesepuh Wargi Sumedang mengusulkan untuk memberi nama Museum YPS yang disampaikan pada forum Seminar Sejarah Jawa Barat. Dan salah satu hasil dari Seminar Sejarah Jawa Barat tersebut dapat diputuskan dan ditetapkan untuk memberi nama Museum YPS, diambil dari nama seorang tokoh yang karismatik yaitu Raja pertama dan terakhir Kerajaan Sumedanglarang yang bernama “Prabu Geusan Ulun”. Maka pada tanggal 13 Maret 1974 Museum YPS diberi nama menjadi Museum “Prabu Geusan Ulun” –YPS.